Di era digitalisasi saat ini, telah banyak bisnis rintisan (start-up) yang sedang mengembangkannya ke dalam dunia fintech (financial technology). Begitupun dengan Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) yang telah membangun pondasi ekonomi di bidang Finansial teknologi melalui koperasi mabadikkunya.

Memang belum banyak orang yang memahami kata ini, tetapi itulah  salah satu inovasi terbaru yang akan menghasilkan transaksi keuangan yang mudah, murah tetapi tetap aman. Fintech inilah yang akan dikembangkan oleh Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan yang merupakan koperasi yang dimiliki oleh warga NU.

Kami memang ingin membangun pondasi ekonomi berbasis financial technology di lingkungan NU,” kata Ketua Umum Koperasi Mabadikku Irnanda Laksamawan di gedung PBNU, Sabtu (5/5/2017).

Irnanda mengatakan, salah satu yang menjadi fitur layanan dari Mabadikku adalah M-Cash atau Mabadikku Cash. Melalui fitur layanan tersebut, pengguna kartu M-Cash dapat melakukan sejumlah transaksi seperti transfer uang antara M-Cash, membayar listrik, BPJS, beli pulsa, dan lainnya.

“Jadi, santri yang habis lulus dari pesantren, belum punya pengalaman berwirausaha, belum punya jaringan, belum punya modal. Asal rajin saja, bisa memanfaatkan M-Cash untuk berusaha,” katanya dalam rapat anggota tahunan Mabadikku.

Selain itu, mantan Ketua Umum Ikatan Alumni ITS Surabaya ini menuturkan, pihaknya sedang mengembangkan layanan pengambilan uang di ATM tanpa perlu menggunakan kartu ATM melalui mabadikku. Menurutnya dengan metode paling canggih ini dan notifikasi yang ada, uang dari mesin dapat langsung keluar.

Jadi hidup serasa akan semakin praktis karena tidak perlu lagi membawa-bawa dompet yang tebal dengan beragam kartu,” tuturnya.

Tak hanya itu, Irnanda pun menggagas layanan produk minimarket Mabadiku. Berbeda dengan minimarket biasa yang mematikan pedagang kecil di sekitarnya. Mabadiku Mart memiliki sistem yang membangun kerjasama dengan toko kelontong di sekitarnya.

Nantinya mereka akan disetori barang kemudian pembayarannya dilakukan dengan payment online system (POS). Minimarket ini hanya memerlukan modal minimal 200 juta. Jauh lebih kecil daripada minimarket besar yang kini mensyaratkan ketersediaan modal sampai 700 juta,”

Mantan Deputi Kementerian BUMN ini berkeyakinan, fintech akan mampu mendayagunakan potensi ekonomi di lingkungan NU yang selama ini masih terpendam. Sebab, inklusi keuangan di Indonesia saat ini baru menyentuh angka 20 persen.

 Masih banyak orang punya uang, tetapi tidak menyentuh dunia perbankan karena berbagai kendala, seperti jarak yang jauh di daerah-daerah perbankan,” tukasnya.

Diketahui, Mabadiku merupakan koperasi primer tetapi bersifat nasional karena pendaftarannya berbasis Information Communication Technology (ICT). Keanggotaannya tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Sumber : www.nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *